▼
Lepas isya, aku sudah siap dengan segala keperluanku. Tak lupa bawa tustel warisan bibi yang katanya beli di arab, saat dia memulai debut pertamanya sebagai TKW. Kami bertiga berangkat dari kompleks mesjid aljihad karawang sekitar pukul 07.30 malam minggu, naik bus primajasa. Dari terminal leuwih panjang kami melaju dengan angkot menuju terminal bus ledeng. Bandung, paris van java. Bagiku kota ini menawarkan sejuta daya tarik yang magis. Jarang aku menginjakkan kaki di kota kembang ini, kota dengan seribu jalan yang bagiku sangat memusingkan. Hampir seperempat abad hidup ku habiskan di karawang, kawan, jadi kau akan tahu betapa udiknya aku dan sangat berpotensi untuk tersesat kalau aku dilepas secara liar di kota ini.
Malam itu, bandung kembali menyuguhkan sisi gelap lain yang belum pernah aku lihat. Saat angkot yang kami tumpangi berbelok ke kanan, ku lihat dua wanita berpakaian sexi bermakeup dengan begitu tebal, seolah-olah semua persediaan bedak mereka tumpahkan di wajah mereka, bagiku persis topeng monyet, berjalan berlawanan arah dengan kami, salah satu dari mereka memakai rok mini ketat 10,75 cm (hitung saja sendiri) di atas lutut. Segera ku palingkan wajahku kedepan,
“astagfirullah, haram, haram”
Bukan pemandangan yang seperti itu yang aku tuju. Bukan kupu-kupu malam itu yang menjadi daya tarikku mengapa aku berada di sini. Bukan.
Mulai dari jam 11.00 malam sampai jam 12.30, sudah sekitar 1.30 kami menunggu di pinggir jalan dekat terminal ledeng. Jalan sudah mulai sepi. Hampir tidak ada tanda-tanda kehidupan disini, hanya sesekali angkot hijau menurunkan beberapa penumpang. Jarang bahkan hampir tak ada nyamuk disini, tapi sebagai gantinya adalah dingin, itulah yang selalu aku rasakan kalau berada di kota ini. Harap maklum kawan, karawang bagiku kota yang nyaman dan penuh kehangatan, disamping ramah tamah nyamuk yang tiap malam berkunjung saat tuan rumah terlelap tak berdaya.
Akhirnya yang kami tunggu pun datang. Tak lama dari jauh kami lihat sebuah mobil angkot hijau datang menghampiri. Dari pintu depan angkot, turun seseorang yang lebih dulu menghampiri kami.
Dia berjalan dengan semangat dan senyum khas mengembang menghampiri kami yang sedari tadi terkantuk-kantuk menunggu, senyum yang segar, renyah, tiada tersirat rasa kantuk dan lelah di wajahnya seperti yang kami rasakan tengah malam itu. Dia berjalan agak cepat, seolah berkata
“ayo anak muda, mana semangatmu, perjalanan baru dimulai”
12.32
iyan taryana


2 komentar:
waduh... waduh... waduh..
banyak dosa ke bandung mah ya.. apa lagi kalo jalan2 di kotanya...
wkwkwkw
iya tapi itu belum selesai euy, sambil emngais ide berikutnya
dimohon para pembaca harap bersabar hehe
Posting Komentar