Kamis, 24 Maret 2011

Bandung

Lepas isya, aku sudah siap dengan segala keperluanku. Tak lupa bawa tustel warisan bibi yang katanya beli di arab, saat dia memulai debut pertamanya sebagai TKW. Kami bertiga berangkat dari kompleks mesjid aljihad karawang sekitar pukul 07.30 malam minggu, naik bus primajasa. Dari terminal leuwih panjang kami melaju dengan angkot menuju terminal bus ledeng. Bandung, paris van java. Bagiku kota ini menawarkan sejuta daya tarik yang magis. Jarang aku menginjakkan kaki di kota kembang ini, kota dengan seribu jalan yang bagiku sangat memusingkan. Hampir seperempat abad hidup ku habiskan di karawang, kawan, jadi kau akan tahu betapa udiknya aku dan sangat berpotensi untuk tersesat kalau aku dilepas secara liar di kota ini.

Malam itu, bandung kembali menyuguhkan sisi gelap lain yang belum pernah aku lihat. Saat angkot yang kami tumpangi berbelok ke kanan, ku lihat dua wanita berpakaian sexi bermakeup dengan begitu tebal, seolah-olah semua persediaan bedak mereka tumpahkan di wajah mereka, bagiku persis topeng monyet, berjalan berlawanan arah dengan kami, salah satu dari mereka memakai rok mini ketat 10,75 cm (hitung saja sendiri) di atas lutut. Segera ku palingkan wajahku kedepan,

“astagfirullah, haram, haram”

Bukan pemandangan yang seperti itu yang aku tuju. Bukan kupu-kupu malam itu yang menjadi daya tarikku mengapa aku berada di sini. Bukan.

Mulai dari jam 11.00 malam sampai jam 12.30, sudah sekitar 1.30 kami menunggu di pinggir jalan dekat terminal ledeng. Jalan sudah mulai sepi. Hampir tidak ada tanda-tanda kehidupan disini, hanya sesekali angkot hijau menurunkan beberapa penumpang. Jarang bahkan hampir tak ada nyamuk disini, tapi sebagai gantinya adalah dingin, itulah yang selalu aku rasakan kalau berada di kota ini. Harap maklum kawan, karawang bagiku kota yang nyaman dan penuh kehangatan, disamping ramah tamah nyamuk yang tiap malam berkunjung saat tuan rumah terlelap tak berdaya.

Akhirnya yang kami tunggu pun datang. Tak lama dari jauh kami lihat sebuah mobil angkot hijau datang menghampiri. Dari pintu depan angkot, turun seseorang yang lebih dulu menghampiri kami.

Dia berjalan dengan semangat dan senyum khas mengembang menghampiri kami yang sedari tadi terkantuk-kantuk menunggu, senyum yang segar, renyah, tiada tersirat rasa kantuk dan lelah di wajahnya seperti yang kami rasakan tengah malam itu. Dia berjalan agak cepat, seolah berkata

“ayo anak muda, mana semangatmu, perjalanan baru dimulai”

Rabu, 14 Oktober 2009

teruntuk yang terindah

yang terindah

tiada kata selain
terimakasih untuk lapangnya hatimu
terimakasih untuk tulusnya sikapmu
terimakasih untuk kedewasaanmu
menyikapi keganjilan yang aku tak tahu dari mana asalnya

yang terindah

tiada lagi yang ingin ku sampaikan selain
maafkan atas sebutir rasa yang malah melukaimu
maafkan atas segala kekhilafan
maafkan atas segala kekanak-kanakan
yang selama ini sering tanpa sadar

yang terindah

tak henti ingin merangkai semua rasa
betapa senangnya bahwa kau nyata
karena bagi ku
lebih baik kau tak pernah menjadi milikku
daripada kau tak pernah ada di hidupku

yang terindah

aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan simbol yang tak pernah dituliskan
sembilan puluh derajat pada tangen
yang menjadikannya tak terdefinisi

yang terindah

aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan bahasa yang tak pernah diungkapkan
lahar pada merapi
yang menjadikannya batu

yang terindah

terimakasih

teriring doa untuk mu

ya Alloh...sungguh halus perasaannya...
kalau dia sedih...dengarkanlah tangisannya
jangan hentikan airmatanya
biarlah mengalir sebagaimana adanya
sampai waktunya dia menyadari untuk berhenti
karena saat tangisnya berhenti
dia harus tersenyum dan berani melanjutkan hidupnya
dan bahagiakan dia
sebagaimana selama ini dia telah membahagiakan
orang orang yang mencintai dia dan yang dia cintai

ya Alloh...dia manusia biasa
kalau dia sakit
ku harap ada orang yang sedia menemaninya
dan aku tak berharap dia sembuh cepat
yang ku ingin adalah dia bisa melatih diri lebih sabar
agar dia menyadari bahwa rasa sakitnya
adalah sarana untuk mendewasakannya
agar saat dia sembuh nanti
dia bisa lebih optimis dalam memandang hidup
dan telah siap untuk kembali membanggakan kedua orangtuanya

ya Alloh...dimataku dia tidak sempurna
kalau dia marah segeralah ingatkan dia
bahwa dengan mengingatmu jauh lebih baik
daripada dia melampiaskan amarahnya
dan gantilah amarahnya dengan
kesejukan iman di lembut hatinya
dan
ketajaman ilmu di mulia pikirannya
sebab saat amarahnya mulai reda
dia akan siap memberikan senyum terindah
yang selalu dia miliki
pada dunia yang akan ia arungi

amin

Senin, 12 Oktober 2009

karawang

AKU, NYAMUK DAN MIMPI GA PAKE NYAMUK


chapter 1
AKU VS NYAMUK



Semalam, aku tidak bisa tidur nyenyak. Terbangun dan tercabik dari seulas rangkaian mimpi aneh berulang kali. Penyebabnya adalah tamu-tamuku, yaitu tuan dan nyonya nyamuk beserta anak buah mereka, tidak mau merelakan aku memejamkan mata. Dengung mereka saat melintasi telinga yang kalau diterjemahkan akan terdengar,

“lapar... lapar... haus... haus... darah... darah.... “

Dimulai sekitar jam sebelas malam setelah tugas mulia membimbing tunas-tunas bangsa menyelesaikan pekerjaan rumah mereka. Aku membaca beberapa halaman buku yang baru beberapa hari aku dapat sebagai kado ultah. Aku mulai lelah dan siap-siap ke peraduan, yaitu ruangan berukuran 3 m x 5 m yang dijadikan mushola yang beralaskan karpet – salah beli – warna biru tua. Ku katakan salah beli karena setelah beberapa hari karpet ini mulai memperlihatkan karakter aslinya yaitu rontok bukan main.

Mushola ini punya empat jendela. Seperti halnya dengan tiga ruangan lain yang mengapit di sebelahnya, jendela disini pun berteralis. Tetapi, ventilasi udara di atasnya tanpa tedeng jaring, dari sanalah gerombolan perampok bersayap itu masuk. Di pojok ruangan, merapat di dinding, diatas lantai putih yang tidak dilapisi karpet, ada sebuah meja besar melengkung. Di bagian bawah kanan meja terdapat beberapa galon kosong dan di bagian bawah kirinya tersimpan mukena dan sajadah. Di sebelahnya ada sebuah etalase yang sebagian besar masih menyisakan tempat kosong, hanya beberapa tumpuk buku yang sudah ditinggalkan pemiliknya. Di atas karpet, ada beberapa sajadah yang terhampar tak beraturan, sepasang mukena yang biasa digunakan siswa putri dan tergeletak pula sebuah buku, aku baru membaca sampai pada pertengahannya.

Beginilah kamar tidurku

Warna biru tua karpet ini menjadi keuntungan tersendiri bagi kawanan cecunguk-cecunguk itu, sebab gerak-gerik mereka tersamarkan oleh warna-warna gelap. Nyamuk suka warna-warna gelap, tempat-tempat gelap dan sangat mungkin manusia berkulit gelap. Ketika gundukan daging mangsa berkulit agak gelap yang hanya satu-satunya terkulai lemah tak berdaya diatas karpet, mereka menyerang tanpa ampun dari berbagai sudut. Keuntungan lain buat mereka adalah bahwa sang mangsa tidak menggunakan tameng apapun untuk antisipasi dan proteksi, tanpa lotion anti nyamuk aroma kulit buah, tanpa obat nyamuk bakar aroma asap, tanpa semprotan nyamuk aroma bunga, tanpa obat nyamuk elektrik aroma karbol bahkan tanpa alat pembunuh nyamuk paling sadis yang pernah ku kenal, raket listrik petasan aroma gosong. Beruntung sekali mereka, raket itu rusak. Sekalipun aku sudah memakai salahsatu di antaranya tetap saja perlindunganku menjadi sia-sia. Seolah anti nyamuk manapun tak kan dapat menghalangi niat kawanan pencuri busuk ini untuk menjadikanku donor darah paksaan.

Ku rasakan serangan mereka kali ini lebih banyak melibatkan saudara-saudara jauh mereka dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya. Jumlah mereka kali ini kira-kira dua kali lipat dari biasanya. Pukul 00 lebih aku terbangun. Diawali gatal-gatal di kedua tanganku dan ku rasakan pula sepoy angin pagi ini terasa lebih sejuk halus menyapu wajahku. Sambil tetap menggaruk dan melancarkan sumpah serapah, aku bangkit dan ku tengok keluar jendela, dan pemahaman pun timbul menjawab pertanyaan. Halaman belakang gedung ini, pohon-pohon palem, permukaan aspal jalan, tiang listrik, tiang lampu di pembatas jalan, halte bus dan lapang upacara di seberang jalan semuanya basah. Langit terlihat suram tanpa kontingen kerlipan bintang-bintang di atas sana dan hujan telah reda, hanya menyisakan gemersik angin pagi dan tetesan air yang masih tersisa di ujung dedaunan. Ini menjelaskan mengapa malam ini terasa lebih sejuk. Yang menyebalkan, ini pun menjelaskan mengapa gerombolan penghisap darah itu menjadi berlipat jumlahnya. Ternyata, rumah nyaman mereka, yaitu got di belakang halte bus, baru saja diserbu hujan dadakan saat saudara-saudara jauh dari kakek nenek mereka mampir untuk silaturahmi, dan mereka sekeluarga besar berbondong-bondong mencari tempat berteduh. Ruangan inilah tempat yang strategis untuk dijadikan hotel, tanpa undangan mereka check in dan tanpa komando langsung mencari mangsa. Inilah berkah silaturahmi nyamuk-nyamuk.

Peribahasa nyamuk mengatakan

sambil menyelam minum air, sambil berteduh sedot darah.

Hingga pukul setengah dua dini hari, sudah tiga kali dengan perasaan kesal aku terbangun, rasa perih campur gatal menjalar di kedua tangan dan kakiku. Ku lihat hasil perbuatan bejat nyamuk-nyamuk itu, sepanjang kedua tangan dan kakiku banyak bukit-bukit merah kecil yang gatalnya bukan main. Seperti yang ku duga saat mataku berkeliling, ku dapati di lantai keramik dekat kepalaku, beberapa nyamuk gendut yang tak kuasa terbang tengah berisitrahat santai. Mereka yang telah berhasil menambah bobot badannya dua kali lipat ini, ku anggap tuan dan nyonya tamu tak diundang. Ini tidak bisa dibiarkan, ini sudah keterlaluan, kebisuanku telah membuat mereka semakin ganas. Maka ku mulai aksi perlawananku. Satu tanganku menggaruk kaki sedangkan tangan yang lain menyerbu kawanan perampok yang tengah berisitrahat melepas lelah itu, tak lupa disertai kata-kata pujian,

“mampus loh”,

Kini lantai putih telah ternoda warna merah darah yang aku yakini bahwa itu pasti darahku. Bahkan kalau di ruang ini Britney Spears tidur di sebelahku, aku optimis bahwa nyamuk-nyamuk lebih berselera makan bila melihatku, mengingat tubuhku yang empuk, menggairahkan, padat berisi, lebih gempal dan sangat menjanjikan. Begitulah sampai tiga kali aku terbangun dan menyerang balik kawanan perampok dalam keadaan kesal dan gatal yang menjadi-jadi.

Peribahasaku mengatakan

sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, sekali tepuk dua tiga nyamuk harus mati.



chapter 2
GELISAH



Tapi kemudian aku sadar, tak adakah hikmah dari kejadian ini? Rasa kantuk sudah hilang, berganti dengan perasaan gelisah yang menyerang tiba-tiba. Gelisah yang muncul tak terelakkan. Gelisah karena ada beban yang masih menggelayut di pikiranku. Pukul setengah dua pagi hari kamis, aku teringat ibadah malam yang sudah lama ku tinggalkan. Tahajud. Aku yakin tahajud bisa mengobati rasa gelisah. Dua rokaat saja, tak perlu banyak-banyak. Allah lebih menyukai yang sedikit tapi sering dilakukan daripada yang banyak sekaligus tapi jarang dilakukan.


Senandung malam melantun mengisi kosong relung rasa
Tak lama
Mungkin hanya separuh sepenggalan
Purnama itu terhalang rajutan kekalahan yang sempurna
Bahkan gemilang yang tercurah
Tak mampu membuat bayang-bayang sang dewi yang kini terkulai tak terjaga

Tajamnya mata malam tak mampu menembus
Dinding batas penghalang purnama kerinduan
Penebar kebencian kedukaan mendalam
Dibalik kemelut kehampaan
Hingga gugur kelopak cahaya terakhir tak tertahan
Oleh irama tarian yang dihembusnya

Mimpikah
Bangunkan aku bila tak salah duga
Ataukah
Tenggelamkan dalam kelam
Agar aku tak lagi berjumpa purnama

(Rindu Purnama, Iyan Taryana, 15 Oktober 2005)

Wahai malam yang mencekam
Tidakkah engkau kembali?
Zamanmu telah berganti
Diguyur hujan dari langit
Semua makhluk penuh dengan tipuan
Aku merasa bagian dari mereka
Atas nama hidup
Yang dibenci bukanlah yang kau hindari
Yang dibenci bukanlah yang kau takutkan
Yang dicintai bukanlah yang kau hasratkan
Banyak ketakutan manusia yang nyata
Lalu mengapa harus bersedih karena sesuatu yang tidak berguna?

(La Tahzan)



Aku gelisah.
Aku ingin berubah.
Aku harus berubah.


Ku ambil wudhu, rasanya sejuk, sedikit menghilangkan rasa perih dan gatal. Selesai sholat, sebentar aku mengaji, satu halaman saja, tak perlu banyak-banyak.

Buku itu, yang dari tadi tergeletak disamping tubuhku, yang aku baca beberapa halaman sebelum tidur, telah membuat aku gelisah. Novel itu kado ultah dari salah satu sobatku telah dapat membangunkan mimpi-mimpi “mustahil” yang dulu pernah aku simpan di hati terdalam. Ku sebut mustahil karena aku, anak kampung, mana mungkin punya impian tinggi, lulus S1 saja itu hal yang teramat agung sumbangsih untuk kedua orangtuaku. Tapi buku itu telah berani mengusik macan tidur dalam otakku.

Aku tak bisa pungkiri bahwa setiap peristiwa yang aku baca di sana adalah suatu untaian ilmu. Aku tak bisa menolak saat kebenaran demi kebenarannya mulai merontokkan setiap mata rantai yang semenjak lulus SMA membelenggu cita-citaku. Sederhana saja, faktor M, itulah yang menggelayuti pikiranku yang membuat aku berfikir mustahil aku bisa meneruskan studyku, mengingat rumahku di kampung sana tak pernah absen dari kebocoran setiap musim hujan.

Buku itu menyadarkanku bahwa mimpiku adalah sumbu api yang menghidupkan otakku. Mimpi adalah cahaya, menerangi setiap pemikiran dan ide-ide cemerlang, tanpa mimpi otak akan redup. Novel SANG PEMIMPI seolah berbisik pada hati terdalam agar aku lepaskan mimpiku, biarkan ia hinggap di bintang tertinggi, dan aku pun tergoda. Aku terbangkan lagi cita-citaku, agar suatu saat dapat kuraih sambil menatap purnama di negeri orang.

Ya Robbi
Apa maksud rindu ini
Ia menyergapku dalam sepi
Nyatakah semua ini
Ataukah hanya penghibur yang lalu pergi
Ya Robbi
Aku tidak mau penghiburan seperti ini
Terlampau agung terlewat suci
Terlalu indah mengusik mimpi-mimpi
Ya Robbi
Saat ini aku merindu
Rindu pada cita-citaku
Pada mimpi yang Kau sematkan di dasar jiwaku
Padamu ya Robbi
Untuk mimpiku
Ku titipkan sejuta salam
Dalam setetes airmata kerinduan

(Rindu Mimpi, Iyan Taryana, 23 Oktober 2008)

Semilir angin pukul tiga pagi berhasil membelai lembut pelupuk mataku dan menjadikan hamparan karpet biru itu terlihat lebih indah dari sebelumnya. Bahkan suara dengung nyamuk kelewat indah bak Siti Nurhaliza mendendangkan nina bobo yang mengalun merdu di telingaku. Setelah tadarus sekaligus ku baca terjemahnya, dengan mata berat yang tak bisa kompromi aku lanjutkan hibernasi dengan balutan jaket SMA dan kain sarung sebagai tameng untuk menghalau serangan preman-preman haus darah itu. Ku set alarm di hape, agar dapat bangun tepat waktu. Alam pun kembali melarutkan aku dalam buaian rantai-rantai mimpinya.


karawang

23 oktober 2008

iyant aryana

Selasa, 12 Agustus 2008

wajim

CHAPTER 1

AWAL HARI BARU


Pagi itu desa Wajim kembali menampakkan keindahan desa yang biasanya. Maha Suci Engkau Ya Rabbi yang telah menghias desa ini dengan pagi-pagi yang begitu indah. Dimulai dari semburat warna merah di ufuk timur diatas hamparan sawah yang pagi itu masih hijau muda. Matahari mulai bergerak enggan dari peraduannya. Hari yang cerah, musim baru telah bergulir kambali.

Di salah satu rumah, tak jauh dari hamparan hijau padi yang baru ditanam. Dia bangun begitu pagi, tak biasanya anak kecil ini bangun sepagi ini. Tak biasanya semangatnya begitu melambung tinggi. Dia bersemangat seperti ini biasanya kalau ayahnya pulang dengan seabreg buah tangan; makanan, sepatu baru ataupun baju baru atau kalau orang tuanya mengajaknya pergi ke tempat-tempat yang menakjubkan yang belum pernah ia lihat.

Tapi pagi itu ayahnya tidak datang dari tempat yang jauh ataupun orangtuanya mau mengajaknya pergi ke tempat wisata. Pagi itu ayahnya mau mengajaknya pergi ke sederet bangunan berwarna sederhana yang halamannya menjadi salah satu tempat bermainnya. Bangunan yang sangat ia kenal yang ia ingin sekali masuk ke dalamnya, ingin menjadi bagian dari mereka. Tapi ia tahu kalau kesana berarti harus mengikuti aturan yang berlaku disana. Tak ada lagi main kelereng, tak ada lagi main gelatik bahkan mungkin yang lebih menyedihkan tak boleh lagi hujan-hujanan.

Dalam hati dia ragu apakah anak nakal seperti dia mampu mengikuti aturan yang ada, meskipun begitu ia tak pernah mau mengatakan pada orang tuanya bahwa ada sedikit keraguan dalam hatinya.

Yang ia rasakan, ia begitu senang menyambut hari ini, hari yang selama ini ia nantikan. Anak laki-laki yang berusia 6 tahun 9 bulan itu hari ini akan memasuki hari barunya. Kini ia telah resmi menjadi murid kelas 1 SD Marga Indah.

Arya begitu semangat.

Dengan nama itulah ia ingin disapa. Tak sabar ia memakai seragam baru putih-putihnya. Ibunya wanita yang sangat telaten dalam memperhatikan segala kebutuhan anak laki-laki kesayangannya ini.

“Ayo, bu, takut telat nih”, kata Arya pada ibunya dengan sesekali menjejakkan kakinya bergantian.

Setengah berjongkok ibunya sedang memasukkan bagian bawah baju seragam putih ke celananya. “Sabar atuh, ini masih belum rapi.” Kata Bu Siti seraya mempererat ikat pinggang anaknya. Sedangkan ayahnya asik berdiri memperhatikan tingkah anaknya dengan wajah tanpa ekspresi.

Arya yakin ini hari senin, dan anak-anak yang bersekolah di gedung merah putih itu memakai seragam putih-putih hari ini.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons