AKU, NYAMUK DAN MIMPI GA PAKE NYAMUK
chapter 1
AKU VS NYAMUK
▼
Semalam, aku tidak bisa tidur nyenyak. Terbangun dan tercabik dari seulas rangkaian mimpi aneh berulang kali. Penyebabnya adalah tamu-tamuku, yaitu tuan dan nyonya nyamuk beserta anak buah mereka, tidak mau merelakan aku memejamkan mata. Dengung mereka saat melintasi telinga yang kalau diterjemahkan akan terdengar,
“lapar... lapar... haus... haus... darah... darah.... “
Dimulai sekitar jam sebelas malam setelah tugas mulia membimbing tunas-tunas bangsa menyelesaikan pekerjaan rumah mereka. Aku membaca beberapa halaman buku yang baru beberapa hari aku dapat sebagai kado ultah. Aku mulai lelah dan siap-siap ke peraduan, yaitu ruangan berukuran 3 m x 5 m yang dijadikan mushola yang beralaskan karpet – salah beli – warna biru tua. Ku katakan salah beli karena setelah beberapa hari karpet ini mulai memperlihatkan karakter aslinya yaitu rontok bukan main.
Mushola ini punya empat jendela. Seperti halnya dengan tiga ruangan lain yang mengapit di sebelahnya, jendela disini pun berteralis. Tetapi, ventilasi udara di atasnya tanpa tedeng jaring, dari sanalah gerombolan perampok bersayap itu masuk. Di pojok ruangan, merapat di dinding, diatas lantai putih yang tidak dilapisi karpet, ada sebuah meja besar melengkung. Di bagian bawah kanan meja terdapat beberapa galon kosong dan di bagian bawah kirinya tersimpan mukena dan sajadah. Di sebelahnya ada sebuah etalase yang sebagian besar masih menyisakan tempat kosong, hanya beberapa tumpuk buku yang sudah ditinggalkan pemiliknya. Di atas karpet, ada beberapa sajadah yang terhampar tak beraturan, sepasang mukena yang biasa digunakan siswa putri dan tergeletak pula sebuah buku, aku baru membaca sampai pada pertengahannya.
Beginilah kamar tidurku
Warna biru tua karpet ini menjadi keuntungan tersendiri bagi kawanan cecunguk-cecunguk itu, sebab gerak-gerik mereka tersamarkan oleh warna-warna gelap. Nyamuk suka warna-warna gelap, tempat-tempat gelap dan sangat mungkin manusia berkulit gelap. Ketika gundukan daging mangsa berkulit agak gelap yang hanya satu-satunya terkulai lemah tak berdaya diatas karpet, mereka menyerang tanpa ampun dari berbagai sudut. Keuntungan lain buat mereka adalah bahwa sang mangsa tidak menggunakan tameng apapun untuk antisipasi dan proteksi, tanpa lotion anti nyamuk aroma kulit buah, tanpa obat nyamuk bakar aroma asap, tanpa semprotan nyamuk aroma bunga, tanpa obat nyamuk elektrik aroma karbol bahkan tanpa alat pembunuh nyamuk paling sadis yang pernah ku kenal, raket listrik petasan aroma gosong. Beruntung sekali mereka, raket itu rusak. Sekalipun aku sudah memakai salahsatu di antaranya tetap saja perlindunganku menjadi sia-sia. Seolah anti nyamuk manapun tak kan dapat menghalangi niat kawanan pencuri busuk ini untuk menjadikanku donor darah paksaan.
Ku rasakan serangan mereka kali ini lebih banyak melibatkan saudara-saudara jauh mereka dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya. Jumlah mereka kali ini kira-kira dua kali lipat dari biasanya. Pukul 00 lebih aku terbangun. Diawali gatal-gatal di kedua tanganku dan ku rasakan pula sepoy angin pagi ini terasa lebih sejuk halus menyapu wajahku. Sambil tetap menggaruk dan melancarkan sumpah serapah, aku bangkit dan ku tengok keluar jendela, dan pemahaman pun timbul menjawab pertanyaan. Halaman belakang gedung ini, pohon-pohon palem, permukaan aspal jalan, tiang listrik, tiang lampu di pembatas jalan, halte bus dan lapang upacara di seberang jalan semuanya basah. Langit terlihat suram tanpa kontingen kerlipan bintang-bintang di atas sana dan hujan telah reda, hanya menyisakan gemersik angin pagi dan tetesan air yang masih tersisa di ujung dedaunan. Ini menjelaskan mengapa malam ini terasa lebih sejuk. Yang menyebalkan, ini pun menjelaskan mengapa gerombolan penghisap darah itu menjadi berlipat jumlahnya. Ternyata, rumah nyaman mereka, yaitu got di belakang halte bus, baru saja diserbu hujan dadakan saat saudara-saudara jauh dari kakek nenek mereka mampir untuk silaturahmi, dan mereka sekeluarga besar berbondong-bondong mencari tempat berteduh. Ruangan inilah tempat yang strategis untuk dijadikan hotel, tanpa undangan mereka check in dan tanpa komando langsung mencari mangsa. Inilah berkah silaturahmi nyamuk-nyamuk.
Peribahasa nyamuk mengatakan
sambil menyelam minum air, sambil berteduh sedot darah.
Hingga pukul setengah dua dini hari, sudah tiga kali dengan perasaan kesal aku terbangun, rasa perih campur gatal menjalar di kedua tangan dan kakiku. Ku lihat hasil perbuatan bejat nyamuk-nyamuk itu, sepanjang kedua tangan dan kakiku banyak bukit-bukit merah kecil yang gatalnya bukan main. Seperti yang ku duga saat mataku berkeliling, ku dapati di lantai keramik dekat kepalaku, beberapa nyamuk gendut yang tak kuasa terbang tengah berisitrahat santai. Mereka yang telah berhasil menambah bobot badannya dua kali lipat ini, ku anggap tuan dan nyonya tamu tak diundang. Ini tidak bisa dibiarkan, ini sudah keterlaluan, kebisuanku telah membuat mereka semakin ganas. Maka ku mulai aksi perlawananku. Satu tanganku menggaruk kaki sedangkan tangan yang lain menyerbu kawanan perampok yang tengah berisitrahat melepas lelah itu, tak lupa disertai kata-kata pujian,
“mampus loh”,
Kini lantai putih telah ternoda warna merah darah yang aku yakini bahwa itu pasti darahku. Bahkan kalau di ruang ini Britney Spears tidur di sebelahku, aku optimis bahwa nyamuk-nyamuk lebih berselera makan bila melihatku, mengingat tubuhku yang empuk, menggairahkan, padat berisi, lebih gempal dan sangat menjanjikan. Begitulah sampai tiga kali aku terbangun dan menyerang balik kawanan perampok dalam keadaan kesal dan gatal yang menjadi-jadi.
Peribahasaku mengatakan sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, sekali tepuk dua tiga nyamuk harus mati.
chapter 2
GELISAH
▼
Tapi kemudian aku sadar, tak adakah hikmah dari kejadian ini? Rasa kantuk sudah hilang, berganti dengan perasaan gelisah yang menyerang tiba-tiba. Gelisah yang muncul tak terelakkan. Gelisah karena ada beban yang masih menggelayut di pikiranku. Pukul setengah dua pagi hari kamis, aku teringat ibadah malam yang sudah lama ku tinggalkan. Tahajud. Aku yakin tahajud bisa mengobati rasa gelisah. Dua rokaat saja, tak perlu banyak-banyak. Allah lebih menyukai yang sedikit tapi sering dilakukan daripada yang banyak sekaligus tapi jarang dilakukan.
Senandung malam melantun mengisi kosong relung rasa
Tak lama
Mungkin hanya separuh sepenggalan
Purnama itu terhalang rajutan kekalahan yang sempurna
Bahkan gemilang yang tercurah
Tak mampu membuat bayang-bayang sang dewi yang kini terkulai tak terjaga
Tajamnya mata malam tak mampu menembus
Dinding batas penghalang purnama kerinduan
Penebar kebencian kedukaan mendalam
Dibalik kemelut kehampaan
Hingga gugur kelopak cahaya terakhir tak tertahan
Oleh irama tarian yang dihembusnya
Mimpikah
Bangunkan aku bila tak salah duga
Ataukah
Tenggelamkan dalam kelam
Agar aku tak lagi berjumpa purnama
(Rindu Purnama, Iyan Taryana, 15 Oktober 2005)
Wahai malam yang mencekam
Tidakkah engkau kembali?
Zamanmu telah berganti
Diguyur hujan dari langit
Semua makhluk penuh dengan tipuan
Aku merasa bagian dari mereka
Atas nama hidup
Yang dibenci bukanlah yang kau hindari
Yang dibenci bukanlah yang kau takutkan
Yang dicintai bukanlah yang kau hasratkan
Banyak ketakutan manusia yang nyata
Lalu mengapa harus bersedih karena sesuatu yang tidak berguna?
(La Tahzan)
Aku gelisah.
Aku ingin berubah.
Aku harus berubah.
Ku ambil wudhu, rasanya sejuk, sedikit menghilangkan rasa perih dan gatal. Selesai sholat, sebentar aku mengaji, satu halaman saja, tak perlu banyak-banyak.
Buku itu, yang dari tadi tergeletak disamping tubuhku, yang aku baca beberapa halaman sebelum tidur, telah membuat aku gelisah. Novel itu kado ultah dari salah satu sobatku telah dapat membangunkan mimpi-mimpi “mustahil” yang dulu pernah aku simpan di hati terdalam. Ku sebut mustahil karena aku, anak kampung, mana mungkin punya impian tinggi, lulus S1 saja itu hal yang teramat agung sumbangsih untuk kedua orangtuaku. Tapi buku itu telah berani mengusik macan tidur dalam otakku.
Aku tak bisa pungkiri bahwa setiap peristiwa yang aku baca di sana adalah suatu untaian ilmu. Aku tak bisa menolak saat kebenaran demi kebenarannya mulai merontokkan setiap mata rantai yang semenjak lulus SMA membelenggu cita-citaku. Sederhana saja, faktor M, itulah yang menggelayuti pikiranku yang membuat aku berfikir mustahil aku bisa meneruskan studyku, mengingat rumahku di kampung sana tak pernah absen dari kebocoran setiap musim hujan.
Buku itu menyadarkanku bahwa mimpiku adalah sumbu api yang menghidupkan otakku. Mimpi adalah cahaya, menerangi setiap pemikiran dan ide-ide cemerlang, tanpa mimpi otak akan redup. Novel SANG PEMIMPI seolah berbisik pada hati terdalam agar aku lepaskan mimpiku, biarkan ia hinggap di bintang tertinggi, dan aku pun tergoda. Aku terbangkan lagi cita-citaku, agar suatu saat dapat kuraih sambil menatap purnama di negeri orang.
Ya Robbi
Apa maksud rindu ini
Ia menyergapku dalam sepi
Nyatakah semua ini
Ataukah hanya penghibur yang lalu pergi
Ya Robbi
Aku tidak mau penghiburan seperti ini
Terlampau agung terlewat suci
Terlalu indah mengusik mimpi-mimpi
Ya Robbi
Saat ini aku merindu
Rindu pada cita-citaku
Pada mimpi yang Kau sematkan di dasar jiwaku
Padamu ya Robbi
Untuk mimpiku
Ku titipkan sejuta salam
Dalam setetes airmata kerinduan
(Rindu Mimpi, Iyan Taryana, 23 Oktober 2008)
Semilir angin pukul tiga pagi berhasil membelai lembut pelupuk mataku dan menjadikan hamparan karpet biru itu terlihat lebih indah dari sebelumnya. Bahkan suara dengung nyamuk kelewat indah bak Siti Nurhaliza mendendangkan nina bobo yang mengalun merdu di telingaku. Setelah tadarus sekaligus ku baca terjemahnya, dengan mata berat yang tak bisa kompromi aku lanjutkan hibernasi dengan balutan jaket SMA dan kain sarung sebagai tameng untuk menghalau serangan preman-preman haus darah itu. Ku set alarm di hape, agar dapat bangun tepat waktu. Alam pun kembali melarutkan aku dalam buaian rantai-rantai mimpinya.
karawang
23 oktober 2008
iyant aryana
0 komentar:
Posting Komentar