Selasa, 12 Agustus 2008

wajim

CHAPTER 1

AWAL HARI BARU


Pagi itu desa Wajim kembali menampakkan keindahan desa yang biasanya. Maha Suci Engkau Ya Rabbi yang telah menghias desa ini dengan pagi-pagi yang begitu indah. Dimulai dari semburat warna merah di ufuk timur diatas hamparan sawah yang pagi itu masih hijau muda. Matahari mulai bergerak enggan dari peraduannya. Hari yang cerah, musim baru telah bergulir kambali.

Di salah satu rumah, tak jauh dari hamparan hijau padi yang baru ditanam. Dia bangun begitu pagi, tak biasanya anak kecil ini bangun sepagi ini. Tak biasanya semangatnya begitu melambung tinggi. Dia bersemangat seperti ini biasanya kalau ayahnya pulang dengan seabreg buah tangan; makanan, sepatu baru ataupun baju baru atau kalau orang tuanya mengajaknya pergi ke tempat-tempat yang menakjubkan yang belum pernah ia lihat.

Tapi pagi itu ayahnya tidak datang dari tempat yang jauh ataupun orangtuanya mau mengajaknya pergi ke tempat wisata. Pagi itu ayahnya mau mengajaknya pergi ke sederet bangunan berwarna sederhana yang halamannya menjadi salah satu tempat bermainnya. Bangunan yang sangat ia kenal yang ia ingin sekali masuk ke dalamnya, ingin menjadi bagian dari mereka. Tapi ia tahu kalau kesana berarti harus mengikuti aturan yang berlaku disana. Tak ada lagi main kelereng, tak ada lagi main gelatik bahkan mungkin yang lebih menyedihkan tak boleh lagi hujan-hujanan.

Dalam hati dia ragu apakah anak nakal seperti dia mampu mengikuti aturan yang ada, meskipun begitu ia tak pernah mau mengatakan pada orang tuanya bahwa ada sedikit keraguan dalam hatinya.

Yang ia rasakan, ia begitu senang menyambut hari ini, hari yang selama ini ia nantikan. Anak laki-laki yang berusia 6 tahun 9 bulan itu hari ini akan memasuki hari barunya. Kini ia telah resmi menjadi murid kelas 1 SD Marga Indah.

Arya begitu semangat.

Dengan nama itulah ia ingin disapa. Tak sabar ia memakai seragam baru putih-putihnya. Ibunya wanita yang sangat telaten dalam memperhatikan segala kebutuhan anak laki-laki kesayangannya ini.

“Ayo, bu, takut telat nih”, kata Arya pada ibunya dengan sesekali menjejakkan kakinya bergantian.

Setengah berjongkok ibunya sedang memasukkan bagian bawah baju seragam putih ke celananya. “Sabar atuh, ini masih belum rapi.” Kata Bu Siti seraya mempererat ikat pinggang anaknya. Sedangkan ayahnya asik berdiri memperhatikan tingkah anaknya dengan wajah tanpa ekspresi.

Arya yakin ini hari senin, dan anak-anak yang bersekolah di gedung merah putih itu memakai seragam putih-putih hari ini.

2 komentar:

bayu mengatakan...

hoooiiiii,,,, lanjutin atuh novel teh,,,

iyan taryana mengatakan...

siap kapten :)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons